Bersaing di Era Digital, Hampir Seluruh Ritel Beralih ke Toko Online

0
17

Sekitar 95 persen anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah bertransformasi atau beralih ke sistem dalam jaringan (daring). Perubahan ini untuk mendukung bisnis mereka di era digital.

”Ritel di Indonesia saat ini sudah mentransformasikan bis nisnya tidak hanya ke toko fisik, tapi juga ke online store. Anggota kami sekitar 600 anggota dengan 40.000 toko fisik itu sudah 95 persen mentransformasikan bisnisnya ke online,” kata Ketua Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers Konferensi Future Commerce Indonesia 2019 di Jakarta, kemarin.

Sekitar 5 persen sisanya, kata Roy, merupakan pemain lokal yang tumbuh dan berkembang dengan kondisi toko fisik dan masih enggan bertransformasi karena optimistis dengan kondisi tersebut.

”Selalu kami yakinkan mereka untuk tidak hanya punya toko offline, tapi juga punya online. Toko fisik juga masih perlu karena tetap saja ada yang butuh melihat secara fisik,” ujarnya.

Menurut Roy, masuknya ritel offline ke sistem online, baik melalui e-commerce atau marketplace disebabkan tingginya permintaan konsumen. ”Tidak hanya (permintaan) milenial, tapi juga oleh para baby boomers (generasi yang lahir dengan rentang tahun lahir 1946–1964),” tuturnya.

Roy menyebut, pengusaha saat ini tidak mungkin bisa menolak digitalisasi. Pasalnya, selain harus mengikuti tren yang ada, digitalisasi dinilai bisa mendongkrak pertumbuhan atau pencapaian target omzet ritel.

”Digitalisasi adalah keniscayaan, maka kita harus absorb (serap). Kami harap peran digitalisasi semakin baik. Artinya, jadi punya aturan, bukan semakin tak punya aturan,” katanya.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai, bisnis ritel memang sudah seharusnya melakukan inovasi dan antisipasi dengan tren yang berkembang. Menurut dia, jika pengusaha tidak mampu mengantisipasi perubahan gaya hidup, maka bisnisnya akan mati. Apalagi 4 persen angkatan kerja atau penduduk usia produktif merupakan generasi milenial yang sudah fasih digital.

Keberadaan internet atau digital tentu akan mengubah pola konsumsi. Dia mengatakan, pada 2030 mau tidak mau sektor ritel akan berubah sehingga harus pandai dalam merencanakan bisnisnya supaya tidak ketinggalan pasar. ”Jadi lebih melihatnya pada mengantisipasi pasar. Bisnis harus melihat perubahan demand,” kata dia.

Namun, perubahan konsumsi dari konvensional ke online sebaiknya tidak disikapi berlebihan. Pasalnya, bisnis online belum mampu menyubstitusi offline. ”Tetapi bahwa offline harus punya online itu betul. Jadi, dua-duanya harus dijalankan. Menurut saya tidak apa-apa dipadukan. Jangan mendikotomi antara onlinedan offline,” kata dia.

Dia mengatakan, dengan memadukan keduanya, penjualan akan lebih tinggi dibandingkan yang hanya memiliki salah satunya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai, transformasi bisnis ritel dari offline ke online tidak terelakkan. ”Saya kira suatu saat nanti tidak ada lagi bisnis ritel yang sama sekali tidak memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk mengembangkan pasar,” ujarnya saat dihubungi kemarin.

Saat ini bahkan sudah ada aplikasi yang memungkinkan pedagang kios kecil berbisnis ritel secara digital. Menurut Piter, mereka yang tidak memanfaatkan sistem dalam jaringan atau online akan tersisih.

”Bisnis ritel yang paling cepat terpengaruh. Sekarang saja sudah beberapa bisnis ritel yang harus menutup outlet-outlet mereka,” ucap dia.

Perkembangan teknologi informasi yang kemudian mendorong perubahan gaya hidup menyebabkan pilihan masyarakat tidak lagi berbelanja di supermarket atau toko ritel besar. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat sudah mulai banyak memilih belanja online. ”Mereka tetap ke mal, tapi lebih untuk leisuremisal nonton atau ke restoran,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here